Menjadi Orang Tua Cerdas Itu ternyata Susah
Suhadi Fadjaray, menjungkirbalikkan logika pendidikan anak di Indonesia, dalam RAPAT KOORDINASI DAN SINKRONISASI TUMBUH KEMBANG ANAK BAGI GURU TAMAN KANAK-KANAK . Menurut mereka, cara mendidik selama ini salah kaprah.
Joko Siswantoro,
-----------------------------------
PULUHAN peserta rapat koordinasi dan sinkronisasi tumbuh kembang anak bagi guru TK benar-benar terpaku mendengar celoteh maupun paparan Suhadi Fadjaray. Meski tak terlihat, audience yang sebagian besar kaum Hawa itu berulangkali tersipu. Hal tersebut terjadi ketika Suhadi dalam mengungkap fakta dibumbui sepenggal pengalaman pribadi keduanya mendidik anak, secara tidak sengaja menyindir peserta seminar.
Suhadi yang tampil sebagai pemateri pertama membuat suasana seminar hidup.
Audience kian terperangah ketika mikrofon di tangan Suhadi Fadjaray, terutama mereka yang berprofesi sebagai tenaga pendidik. Suhadi menggambarkan, dunia pendidikan di Indonesia tidak optimal. Salah satu kalimat yang meluncur dari mulutnya, di sekolah anak tersiksa sedangkan gurunya jenuh. Bahkan, Suhadi memelesetkan kepanjangan SBI sebagai sekolah bertarif internasional, bukan sekolah bertaraf internasional.
"Karena memang tidak ada perkembangannya. Itu fakta dunia pendidikan di Indonesia. Anak-anak sering bersorak gembira ketika kepala sekolah mengumumkan libur tiga hari misalnya. Sedangkan guru yang berdiri di belakang kepala sekolah dalam hatinya bilang, alhamdulillah ," ujarnya berseloroh, tetapi kembali meyakinkan bahwa itulah kenyataan dunia pendidikan Indonesia.
Khususnya untuk membuat perubahan di terhadap kebiasaan anak dan cara mendidiknya. Ketika menjelaskan hal ini, Suhadi mengambil selembar kertas. Kertas itu lantas diletakkan di bawah botol air mineral. Ketika kertas ditarik dengan kecepatan tertentu, kemana botol air akan jatuh, itu pertanyaannya. Audience pun terdiam.
Suhadi lantas memberikan alternatif jawaban. Saat kertas ditarik, botol air mineral bisa jatuh ke belakang atau ke depan. Ambruk ke kiri maupun ke kanan pun sangat mungkin. Dia terus meminta hadirin memperhatikan apa yang akan dilakukannya. Setelah diam sesaat, Suhadi kemudian menarik kertas berwarna putih itu dengan cepat.
"Anda lihat, botol air mineral itu tidak jatuh ke mana-mana. Itu menggambarkan, ketika Anda menyuruh anak mandi dengan keras, atau melakukan perubahan dengan sangat cepat, tidak akan ada perubahan apapun. Anak yang susah mandi tetap saja seperti kebiasaannya. Tetapi, kalau cara kita merubah pelan-pelan, hasilnya bisa lain. Lihat ini, kalau kertas saya geser dan tarik pelan, kita bisa atur kemana gelas itu jatuh," ungkap Suhadi.
Intinya, mengubah kebiasaan negatif butuh waktu, tidak bisa frontal. Dia lalu memberikan tips memulai perubahan. Kuncinya, ujar Suhadi, selalu meng- upgrade cinta. Baik antar orang tua, suami kepada istri maupun sebaliknya, istri ke suami. Setelah itu, perwujudan cinta kepada anak untuk mendidiknya bisa dimulai.
"Ini tips untuk ibu-ibu. Cintai suami Anda sepenuh hati tanpa peduli tanggal berapa. Lalu untuk para suami, cintai istri Anda sepenuh hati tanpa melihat berat badannya berapa. Ini pasti akan berdampak indah," pesan Suhadi, disambut gelak tawa audience , yang lantas menyahutnya dengan celetukan sepakat bahwa tips tersebut diprediksi ampuh. (Jks)
Rabu, 29 Juli 2009
Langganan:
Postingan (Atom)